Tampilkan postingan dengan label review gigs. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label review gigs. Tampilkan semua postingan

Senin, 22 Februari 2010

Longest Afternoon On Porch vol.2

HUAAAH kembali lagi akhirnya dari penyakit malas dan tidur panjang kami dari hingar bingar perhelatan musik kota pahlawan ini.Kami kembali hadir dengan liputan langsung dari Longest Afternoon Porch vol.2 sequel dari Longest Afternoon POrch vol.1 pada 14 februari 2009 lalu.Dengan talent seperti porn ikebana ,african air conditioner,nobodies,plan for tomorrrow,deskripsi sebuah mahasiswa,fading vision,ROBOT,my father is john,egon spengler serta duet MC. TRAVERSA HUMANIORA-BISM HARRISON.
Hari itu sedikit mendung,acara dimulai dengan undian giliran main,dan ternyata jatuh pada PORN IKEBANA,band yang memulai debut pertama kalinya waktu itu di surabaya membawakan chic, swedish pop influenced music yang rapid dan vocal yang menurut saya lain daripada yang lain.Merdu melengking,dengan flow yang membius dan english pronounciation yang perfect.Membawakan 4 lagu,satu lagu kover dari bonney and delaney yaitu SUPERSTAR, ada nuansa christine panjaitan disini dengan intro vokal "a a a aa a a" menambah menyayatnya atmosfir lagu ini. Debut yang apik ini bahkan mengundang respon positif penonton dengan permintaan encore. Performance selanjutnya yaitu electro post rock band bernama ROBOT, dengan berbekal piranti irama dan beat laptop macintosh dan software garage band.Band ini bermain atmosferik dengan datangnya hujan gerimis yang semakin deras,ditambah lagu klimaks dengan iringan pidato bung tomo. Akhirnya acara dibreak sebentar sampai hujan reda.


Namun ternyata naas hari itu,setelah hujan reda,listrik pun padam sampai waktu yang lama hingga official acara terpaksa menunda acara ini sampai beberapa hari.But overall,short show tadi merupakan best gig yang saya pernah datangi di awal tahun ini.Semoga Tuhan mengijinkan acara ini berlanjut kembali tanpa adanya mistreatment dari pelayanan insitusi listrik negara dan force majeur lainnya.

Kamis, 31 Desember 2009

MUSIKKANTIN

MUSIKKANTIN

musik kantin adalah gig reguler yang diadakan di fakultas sastra (sekarang ilmu budaya) universitas airlangga. dengan penyelenggara anak2 BSO musik sastra yang lebih milih ngeband setiap selasa di ruang musik daripada kuliah , musik kantin sudah beberapa kali diselenggarakan dengan mengundang band2 luar maupun internal fakultas.

pertama kali di kantin bu joko, di dekat parkiran fakultas. setelah beberapa kali gig, venue pintah ke kantin belakang, karena kantin bu joko digusur untuk perluasan parkiran (bujoko ga ikut digusur kok, kantin beliau pindah ke kantin belakang ).

band yang main di musik kantin biasanya band2 kenalannya anak2 BSO sendiri , juga band internal bikinan mereka , karena awal penyelenggaraan event ini adalah manifestasi latihan diruang musik. genre yang ditampilkan pun beragam, mulai jazz, pop, post rock, power pop, metal, yang belum pernah mungkin cuma hip hop, karena dangdut dan campur sari pernah tampil disini.

selain musik kantin, anak2 BSO musik sastra juga sering mengadakan gigs yang memanfaatkan lahan yang tersedia di fakultas. antara lain:

-studio gig
-musik tandon
-musik parkiran







Denan bagus

Rabu, 12 Agustus 2009

Review British invasion part 2

review British invasion part 2
setelah jeda waktu selama satu tahun British Invasion kembali lagi.
Perhelatan satu - satunya di surabaya yang menampilkan
british music influenced artists dalam satu panggung.
Tak sebatas dari 90's british tapi 60's dan 80's pun kumpul jadi satu.
Acara yang digelar pada hari minggu 2 agustus 2009 ini sedikit
lebih intim dan secluded dari keramaian kota.
Namun tidak mengurangi kemeriahan yang ada.
Diprakarsai oleh the one and only mr.rahmat kartono

alias toton yang selalu dari dulu menjadi
motor dan inisiatif acara british invasion yang
sempat kerja di jakarta dan kembali lagi ke kampung
halaman untuk waktu yang belum ditentukan,
semoga aja gak kemana - mana lagi.
Acara dimulai 1 jam setelah jadwal yang tertulis
18:00 dimulai 19:00. biasalah jam karet,,para artisnya masih sibuk dandan!!!
hahahaha.....

Band pembuka yaitu D'Craion yg membawakan cover lagu2 dari oasis dan radiohead,,
nama band ini masih green namun mereka nampak mantap mambawakan beberapa single dari radiohead!!!
beranggotakan 5 personil yg berpakaian layaknya anak grunge,,
meski suasana masih sepi namun tepuk tangan penontonnya
hampir sama dg acara Woodstock.....?
smoga saja D'Craion bukan band dadakan trus bubar (i hope)!!!

Lalu disusl band bernama 7 myth yang membawakan kover lagu "You And Me" dari
LifeHouse sebuah band post grunge amerika yang menelurkan
hits "hanging by a moment" dan "you and me".
Sebuah pendekatan yang amerika untuk acara anglophillic ini,,
dilanjutkan dengan lagu2 kover lainnya.
kami kurang perhatian karena masih disibukkan dg gotong royong
menyiapkan tempat duduk untk penonton,,maklum namanya juga acara reunian :P

Jeda waktu diisi oleh game dari panitia, yaitu penonton yang ditunjuk diminta
ke depan untuk bernyanyi dengan instrument of choice mereka yang nantinya diberi
goodie bag dari sekian banyak penonton terpilih 2 orang yaitu abel ferial java
dan satu lagi yang saya tidak perhatikan namanya siapa..............
abel java sempat membuat ricuh suasana,,karena penonton kurang bisa
membedakan antara dunia dan akhirat yg ia munculkan lewat joke's
atau sebuah puisi...entahlah????
karena adanya game2 segar ini
membuat acara ini semakin hidup,,dan tidak berkesan dadakan!!!

next performer adalah african air conditioner yang
tampakanya pada malam itu kurang maksimal pada
penampilan kali ini.
set sound yang minimalis ternyata brujung pada kendala teknis
yang membuat sound gitar sering mati,,
dan vocal kurang bisa bernyanyi sambil memainkan drum,,
itu akan lbh baik jika basis yg menjadi vocalnya!!!
terlepas dari semua itu barisan lagu yang dibawakan
memiliki progresi yang logis.
Berikutnya "arabian psychedelic epic" act yaitu SmellStreet eh slimstrit
eh smil stir eh yang jelas panitia kali ini gak salah sebut hehehehe.......
Menggempur dengan lagu pertama "pink slip" usual live song yang selalu
mereka bawakan dari taraf ini belum membuat saya mabuk karena terkendala
kabel yang sering copot karena hancur terinjak kaki personilnya sendiri.
Beranjak lagu kedua yaitu "wisdom and Yoghurt" and
"momentum of fire" yang lebih brutal dari biasanya dan tentunya epic karena
ada fluktuasi emosi dari cerita yang berbentuk syair lagu itu ditambah aksi
jilat senar gitar yang mungkin om Hendrix sendiri bisa menangis.
pada lagu "wisdom and Yoghurt" ada sedikit kendala tempo yg kurang maksimal
dari drumernya,,namun so far its be busted!!!!

Dilanjutkan The Clock, band yang digitari(suroboyoan rek) oleh Toton ini membawakan easy
listening candy pop rock yang ringan dengan tema lagu seputar cinta namun
progresi yang oke, mereka juga mengkover lagu saturday night dari The Thrills
yang hasilnya not so okay karena saya sempat tak mengenali lagu ini.
karena mereka sempat vakum,,dan jarang tampil di scene surabaya...!!!
Dilanjutkan dengan Nobodies yang langsung menyerang dengan
"No Action Talk Only brutally near perfect",,near karena gitar
sempat tak bunyi lalu Homo Homini Lupus.Berlanjut ke
lagu "Boys and Girls" kover lagu dari Blur dengan guest player dari De morte yaitu
Eri IA IA sebagai keyboardist, dengan bassline yang perfect. Diakhiri dengan
lagu Not So Lucky.
Beranjak ke Greats membawakan lagu sendiri lalu dari Beatles
dan Radiohead dengan perfect dan diakhiri dengan Gubeng Rendesvouz.
pada hari itu progresi mereka agak berubah tidak seperti greats
yg kita kenal seperti biasanya!!!
dari segi sound,,nampaknya saling berimbang!!!
Berlanjut Ke Himom yang tanpa terduga ternyata membawakan barisan
lagu yang belum pernah saia dengar sbelumnya. yeah... merek membawakan
lagu2 baru pada perform malam itu yang smakin membuat penasaran akan
kejutan-kejutan yang bakal dilakukan suatu saat.
Others sebagai penutup tidak dibarengi dengan turunnya semangat penonton.
Kali ini mereka mencoba membawakan
sound mereka dulu yaitu Placebo influenced dengan nafas POst Rock,
ditambah kolaborasi dengan Dj Oky.
yg saya rasa kurang klop,,mungkin karena masih awal atau memang
aura lagunya gak nyambung dg sentuhan electronic Dj oky!!!
ditutup dengan lagu Tokyo Hot, andalan yang tak pernah mati gaya.
Akhirnya acara berakhir dengan orgasme mantap dan penonton kembali
ke rumah masing - masing.
meskipun suasana sempat ricuh karena seorang abel java tidak memiliki
kekongkritan atas lagu yg dibawakan!!! :P

Friendzinesby signing off

Bagi band2 yg gak ke foto kami mohon maap
lagi2 fotographernya sedang berburu ginian!!!
ck...ck...ck....mau muntah kayaknya

Post by:
sekte abu jammal
budak efek
M.santai

editor:
m.santai

photo by
denan bagus

Minggu, 19 Juli 2009

Fete' de la musique - Review

Fete' de la musique
(pesta musik sedunia) At CCCL



Oeeeeeeeeee, sekali lagi kami datang dan menikmati acara
Fete' de la musique kali ini.
Sebuah acara tahunan yang serentak di pusat kebudayaan perancis di kota-kota Indonesia.
Di surabaya sendiri sudah ke tiga kali,sebelumnya mengundang Ballads Of The cliche,
lalu Zeke And The Popo
dan kali ini Adrian Adieoetomo.
Dengan talent African Air Conditioner (Sby),The Nobodies (Sby), Foxy Train (Sby),
De Morte (Sby),Others (Sby),d'Art (SMAN 2 Sby), Siberian Husky (SMAK Santa Maria Sby),
Athenian (SMAN 9 Sby).

Diawali dengan pemutaran video "Concert de Paris pour Amnesty International",
sebuah konser amal dari organisasi HAM dunia Amnesty International yang terpaksa saya
lewatkan karena ada urusan yang tak bisa ditunda.Ahkirnya saya datang satu jam
kemudian dan ternyata konser belum juga dimulai. Terlihat beberapa panitia acara
sedang memperbaiki LCD porjector di atas panggung guna keperluan visualisasi.
Lama menunggu ternyata LCD tidak bisa diperbaiki akhirnya acara
dilanjutkan tanpa eyecandy.

Untuk kloter pertama,Athenian
dari SMAN 9 surabaya
mengawali dengan gempuran brutal death metal yang dibarengi headbang kompak dari
massa mereka. Audience lainnya pun ikut terbawa suasana dan ikut memanaskan acara
ini dengan sedikit slam dancing damai. Usaha band ini tak berhenti di situ saja,
mereka pun mengundang vokalis tamu 2 orang entah dari band mana, yang menambah
jumlah anggota paduan suara growl sampai sesi mereka berakhir dengan tepukan meriah
penonton.

Dilanjutkan dengan penampilan De Morte, sebuah band Ska-core yang sempat vakum namun
kini dengan formasi baru yang lebih mantap dan vokalis yang bak Cedric bixler dari
At The Drive In berjoget seperti kerasukan ditambah lagi salah satu roadie mereka
yang stage diving sejak awal mereka mulai meluncurkan ketukan pertama.
KOmposisi - komposisi lagu mereka pun tak seperti ska - core biasanya yang strict
pada akar hardcore. Band ini lebih terdengar seperti membawakan irama post - hardcore
dengan sentuhan latin. Tidak straight to the point namun lebih beralur dan yang
mendengarkan untuk pertama kalinya pasti akan langsung in tune.

Bergulir ke penampil selanjutnya yaitu band dari SMA Santa Maria yang memulai
dengan raungan gitar dan hentakan irama primitif ala the stooges. The Stooges?
yeah,mereka terdengar garage dalam waktu yang sama juga terdengar punk.
Setengah sesi mereka saya coba nikmati sampai suatu ketika seseorang mendatangi saya,
rekan kontributor dan fotografer kami.

Dia berkata "Bukannya ini lagunya Teenage Death Star?"
Saya jawab "iya mas" dengan sedikit canggung
Ia pun berlalu, dan kami saling memandang lalu bertanya "Kamu kenal orang tadi?"
Fotografer kami menjawab "tidak.."

Begitu pula rekan reporter lalu kami lanjutkan dengan rekonstruksi ulang dan
tertawa bersama.

 

Akhirnya tiba saat The Nobodies naik ke panggung dan saat itu saya berharap
lebih dari mereka. Namun ternyata lepas landas dengan bagus juga karena
kendala mikrofon yang sangat mengganggu. Padahal mereka membawakan lagu
favorit saya. Terdengar sayup namun menurut teman sebelah saya,sang vokalis
menyatakan bahwa ini adalah penampilan terakhir mereka,hmm sebuah cara yang
asik untuk membuat sensasi dan saya sendiri tidak percaya mereka akan bubar
sekarang. Overall penampilan mereka masih membuat saya berjingkrak terbukti
lagu baru mereka "About The POrtion" yang sedikit poppy masih membuat beberapa
bule staf CCCl berjoget aduhai walaupun masih dililit kendala teknis dari sound
system. Saya memang tak pernah berhenti memberi support band ini.

Dilanjutkan band British-Grunge ala Radiohead bergumul dengan BUsh dan Nirvana
yaitu African Air Conditioner
dengan aroma gitar yang berlapis delay-reverb yang terinjeksi modulasi
namun dihempas oleh raungan high gain overdrive atau
distorsi pada reffrain yang membuat sound secara keseluruhan very rich…..!!!
yeah walaupun masih terkendala masalah sound yang masih belum balance pada
output namun tak menyurutkan tendensi menikmati barisan lagu yang diibawakan.
Agak surprise melihat formasi terbaru African Air conditioner karena jika
sebelumnya hanya terdiri dari tiga orang namun pada malam itu bertambah
seorang gitaris merangkap vokal pula, hhmmm PIMP…..!!!!

pada sektor drumer
sendiri terlihat koko (himom)duduk di belakang set drum. Ternyata Mario
drumer African Air conditioner berhalangan hadir dan digantikan sementara
oleh koko (himom).

akhirnya Adrian AdiOetomo blueser asal jkt tampil,,saya agak sedikit
canggung melihat kayu yg seperti papan yg biasanya dipakai orang2
untuk memasukkan motor kerumahnya,,namun kayu ini agak kecil...
ternyata kayu itu dirancang sendiri oleh adrian untuk mengatur tempo lagunya!!!

lagu pertama ia mula dengan reef2 clasic blues pentatonik yg aneh menurut saya???
slide2 gitar besinya benar2 terdengar sangat meneyesatkan,,
bagaimana tidak jari2nya terus memainkan nada2 meski mulutnya mengucap!!!
persetan dengan penonton yg beranggapan bahwa bir itu nikmat,,saya tetap
berpihak pada rokok yg banyak merengut banyak nyawa....(apa2an ini???)

tibalah track adrian berjudul BLUES IBLIS,,dari judulnya sudah terlihat
bahwa lagu ini ttg orang yg kesepian,,namun saya berpendapat berbeda
dalam lirik Blues Iblis saya merasa iblis itu adalah manusia itu sendiri
dg kesepiannya manusia itu dia memiliki halusinasi berupa iblis sbg temannya.
jika kalian pernah liat film beautiful mind pasti tau!!!

Lalu band D'art dari Sman 2 Surabaya, dengan arsenal jazz lengkap dari
trumpet dan saksofon dan keyboard sisanya alat2 pokok. Saya kira akan
membawakan lagu - lagu yang mendekati Mal** and D'Es********l dan ternyata
terhapus persepsi saya dengan sebuah komposisi layaknya YellowJackets ,
Chick Corea dan bahkan yang paling mainstream yang mereka bawakan adalah
lagu dari Level 42(entah,ini kata teman saya di sebelah). Yang saya kira
cukup berat untuk anak SMA, namun dibawakan sempurna oleh mereka.

Berlanjut ke garda depan POst-Rock kita, Others. Penampilan kali ini terasa
lebih hidup, dengan jokes - jokes segar dari gitaris Gerdi dan intermezzo
komunikatif dari Erwin. Tak hanya itu, irama drum kali ini lebih bervariasi
dan setting sound mendekati sempurna. Saya merasakan kembali energi kosmis
kelam dibawah pohon tua rindang yang menaungi kami,sebuah aura yang pas.

Kata teman sebelah saya,,kali ini drummer mereka additional karena Gentho
sedang bertugas keluar kota, namun saya tak berani berspekulasi kalo itu
bukan Gentho. Terlepas dari itu semua, penampilan mereka kali ini yang
paling saya nikmati, dengan venue outdoor dan tata cahaya remang2 di atas
rerumputan membuat Others dan audience menyatu dengan alam.

Las but not least, foxy train. Yang memberi impresi pertama kepada
saya sebuah blues modern ala Stevie Ray Vaughn . Tidak hanya itu,mereka
juga berkolaborasi dengan seorang bule british dari liverpool bernama Phil,
yang pernah saya dengar dari teman saya , mengajar di sebuah institusi
pendidikan bahasa asing di surabaya ini. .Membawakan Red House dari Jimi
Hendrix
,
yang paling mengagumkan pada penampilan mereka adalah
pada saat melodi yg saling sahut2an antara bule dan gitaris foxy train...
"acara ditutup dengan aksi kembang api yg cukup meriah seperti tahun baru saja"
(kata yg ber " itu bohong...hahahhhaaaa...FAKKKKK)
dari acara Fete' De la Musique tahun lalu,,saya rasa tahun ini yg paling keren
karena CCCL dipenuhi oleh crowd yg haus akan LIVE music yg "teruk sangat"
bahasa apa itu????bahasa orang hutan kali ya...hahahahahaha.....FAAAKKKKK
friendzinesby sign OUT

bagi band yg gak kefoto mohon maap
karena fotograpernya sibuk cari ini






by:
Sekte Abu Jammal
Budak Efek
M.santai

editor:
M.santai

Photo graph
Denan Bagus

Rabu, 10 Juni 2009

Recode The Revelation Album Launching

"The Gospel of Titik Koma"

Launching album ini sebagai gospel according to Titik Koma. Akhir tahun lalu, selang beberapa minggu setelah rilis mereka di retail-retail toko kaset dan CD di Surabaya, terlayang surat dari ormas yang menyatakan bahwa salah satu lagu dari album mereka yang berjudul "Atas Nama Tuhan" dikatakan tak layak dengar karena isu SARA yang dinilai kental dengan penodaan suatu agama, well of course kalian tahu siapa-siapa pimpinan mereka saat ini yang mendekam di balik terali besi karena religious act yang bar-bar. Mungkin saja mereka tersinggung bahwa penafsiran mereka tentang perintah-perintahNya dinilai salah dalam lirik lagu ini, padahal tujuan lagu ini ingin membuktikan bahwa setiap kekerasan yang berhubungan dengan agama tidak pernah dibenarkan, karena agama adalah rahmat bagi semua manusia, ironisnya surga terlihat lebih diagungkan daripada Tuhannya sendiri. Recode The Revelation pun bukan bermaksud untuk mengajak mengubah isi kitab suci tapi merupakan ajakan untuk sekali lagi, menafsirkan kembali misteri yang ada dalam kitab agar tentunya muncul kebenaran sejati.

Launching album ini nampaknya seakan menjadi ajang pembuktian bahwa dengan segala penundaan dan usaha untuk menghalangi penyebaran tiap kopi album ini tidak ada pengaruhnya terhadap semangat menyatakan pendapat mereka dalam kesadaran berdemokrasi dan hidup dalam negara yang demokratis. Ok, enough the fuss, let’s talk about the goodies. Launching album Recode The Revelation tertulis di pamflet dimulai jam 14.00 WIB, saya pun datang ke venue kurang lebih pukul 15.00 WIB dan voila suasana masih hectic, pendukung acara sibuk menyiapkan meja ticketing, dan tak satu pun pengunjung terlihat. I’m the first man on the spot. Well, ternyata, puji Tuhan alat-alat sudah siap sejak siang. Sebuah kemajuan bagi Indonesia. Acara kemudian dimulai satu jam kemudian, tepat jam 16.00 WIB dengan pembukaan oleh MC, yang kelihatannya dadakan dan terlihat dalam keterpaksaan, mungkin karena penonton yang masih “dapat dihitung tangan” (biasa… acara berbayar, baru ramai saat “malam”). Well, it doesn’t matter, yang saya lihat di sini adalah line-up band yang akan tampil seperti : Strawberry Shortcake, Happy Holiday, No Entry (yeah.. No Entry, something eared absurdiant avant-garde huh?? Cult-rock act yang bahkan salah satu lagunya tak berlirik dan berinstrumen tapi tetap menghibur. Sugenk still alive!!!), Papa Onta Cult, Under My Throat, Smell Street, Albert and The Products, Silly Voice, Never Ending Story, Screaming Out, The Sinners, Incarnation dari Malaysia dan terakhir the main attraction Titik Koma.

Strawberry Shortcake membuka pertama dengan lagu-lagu pop punk, begitu pula Happy Holiday, tipikal sangat SMA, at least still entertaining. Namun rupanya persiapan sound yang matang tidak didukung pula reverb ruangan yang baik. Semuanya terkesan tak terfokus sehingga apa yang dinyanyikan terdengar seperti gumaman tak jelas, terpaksa saya beranjak dari kenyamanan lesehan dengan maju ke depan. Disini terdengar lebih baik, dengan sound monitor yang memperjelas semuanya. Akhirnya kedua opening act menyelesaikan sesi mereka. Tiba saatnya Sugenk dan kawan-kawan No Entry naik panggung. MC memanggil mereka namun belum ada tanda-tanda, rupanya personil mereka belum lengkap, MC pun bersikeras agar mereka naik panggung, dan ya… dengan segala profesionalisme, mereka pun setting alat dan mempermainkannya. Prematurely beautiful, yeah itu yang saya tangkap dari musik mereka. Secara standar umum, musik mereka tak indah, tapi dalam keadaan tak berstruktur itulah terdengar kebebasan total yang tak terbatasi oleh konsep chorus dan verse, chord dan rythm, begitu free layaknya freejazz. Apakah ini yang disebut freemetal?? Haha..!! Berikutnya satu band lagi dengan nama aneh yaitu Papa Onta Cult yang menurut apa yang tertulis di profil myspace mereka post-punk adalah kiblat mereka, dimana era revival-lah mereka berada. Penampilan Papa Onta dibuka dengan sambutan yang agak canggung dan terlihat tak bersemangat. Dilanjutkan lagu pertama mereka Slaughterhouse, sebuah hujatan terhadap perburuan ikan hiu untuk sup sirip dan kulit binatang untuk pakaian. Slaughterhouse terdengar catchy dengan nada bas monoton namun dengan ritme ganjil dan gitar yang menusuk. Applause for these fellas! Kemudian tiba saatnya Under My Throat menghajar tenggorokanmu dengan technical death metal mereka, namun masih terlalu sore untuk pesta rupanya. Audience belum ada yang mengayunkan tangan dan kaki untuk slam-dance and headbang.

20 menit berlalu, Smell Street get on the stage. Trio yang kemarin sukses show di Jogjakarta ini membawakan Escape From Three Corner dengan apik dan tentunya psikadelik, disusul dengan Pink Slip dan dilanjutkan epik kebakaran pasar pabean di daerah Ampel berjudul Momentum Of Fire, intro yang pelan menipu saya untuk mengira lagu ini slowpaced ternyata disusul dengan irama rancak yang dibalut lick sangat metal dan Arabik untuk momen kebakaran, begitu ikonik untuk lagu psychedelic blues ini. Saya pun standing applause untuk mereka. Sesi pertama ini pun diakhiri dengan break maghrib yang begitu singkat datang karena molornya acara, namun memuaskan dan menyisakan Albert and The Products, Silly Voice, Never Ending Story, Screaming Out, The Sinners, Incarnation dan Titik Koma.

Albert and The Products come to see ‘em naked their foot-bangings with the never-going up-adult frontman, Obek. Tampil dengan irama garage rock-new wave yang sayangnya dari awal, sound-out terbungkus dengan setting-an metal yang menutup beberapa sound-sound alternatif menjadi sedikit terasa distortif dan metal. What a stupid word I’ve said?!! Silly Voice terasa mantap ketika menggeber produk-produknya yang sangat cocok dengan karakter sound-out yang metal dan bergema. Suara vocal terdengar semakin jelas karena gema-gema sudah mulai diredam oleh tubuh-tubuh tiap pengunjung malam itu, apalagi di salah satu geberan produknya, sang bassis memutarbalikkan (bukan fakta,RED) instrumen-senar-empatnya dengan cantik di tengah-tengah lagu. Different thing huh??!! (not so common at some metal gig for comparing). Well, begitu pula dengan NES (Never Ending Story), band yang bergema di mulut-mulut mereka yang kemudian sampai membuat telinga saya bergema percaya bahwa musik rock yang mereka bawakan masih bisa divokali beberapa suara pop khas sang vokalis, Yopie, yang juga memungkinkan sekali untuk suara scream. Sangat alternatif, meskipun malam itu saya sempat terkecoh dengan setting-an mixer indoor yang terasa menusuk secara metal. Berikutnya Screaming Out yang berteriak dengan vokal-vokal HC oldskool tanpa paksaan growl atau sekalipun memaksa screaming dengan hentakan guerrilla dan sing along bersama dengan beberapa HC kids yang tidak canggung memporak-porandakan crowd “menonton wayang” yang terasa membosankan dan tenang-tenang saja. (Haha..!!).
Begitu juga dengan The Sinners yang mana orang-orang berumur kerja ini tetap semangat dengan senang dan hip-hip hura crusty punk mereka. Hentakan bass drum si Andri Telek tak pernah terkalahkan oleh rasa capeknya sendiri sebagai drummer rangkap Screaming Out. Circle chaos sempat terjadi di antara giggers yang membosankan (Lagi-lagi..!!). Well, young ‘till they die.

Selanjutnya, Incarnation, band metalcore dari Malaysia. Growl sang vokalis hampir merobek tatanan kepribadian mic panggung diiringi raungan senar-senar dan beat-beat metalnya, meskipun ada sedikit unsur oldskool dari sentuhan HCnya. Grindin’ yer. throats!!




Well, finally, the last and the blast, Titik Koma. Dari awal mungkin kualitas sound-out sebenarnya sudah ter-setting metal, yang lagi-lagi sayangnya terpantul sendiri oleh deretan dinding-dinding indoor ruangan dimana gig berlangsung. Lutfi sedikit menjelaskan visi album Recode The Revelation tentang pengintepretasian kitab suci untuk menghilangkan pandangan fanatisme ekstrim dan fasisme. Langsung diteruskan tembang Recode The Revelation diikuti moshing crowd. Pada saat lagu Silent Killer, Yadd sang vokalis dari Incarnation berduet dengan Lutfi. Sayang sekali pantulan-pantulan suara ruangan semakin membuat noise. Ditambah lagi ketidaktepatan posisi saya di depan panggung untuk mendengarkan mereka dari sound-out.
Dua lagu bergulir dengan reverb dan delay ruangan yang parah namun crowd tidak peduli dan tetap moshing sampai akhir pertunjukkan. Total kurang lebih selusin lagu mereka bawakan. Overall, launching ini begitu variatif dengan line-up yang terdiri dari beragam jenis musik yang ada di Surabaya. Namun tempat yang tidak audio friendly membuat semua seakan kurang tercerna dengan baik. Well, it’s a great album launching from Titik Koma. Sukses selalu buat Titik Koma dan scene kita yang plural.





FriendzineSBY signing off

Written by Tuan Alfan dan Tuan Kentang
Edited by The Damnass

Photos by Ucha Rocks


Kamis, 04 Juni 2009

Hit The Road Volume 1

Hit The Road Volume 1
A Wild Wild Night



29 Mei di penghujung bulan, sekelompok anak muda menggelar perjamuan di pelataran Aiola Store setelah sekian lama Surabaya tidak menggelar sharing gig antar propinsi. Kali ini Others, Nobodies, Hi Mom! (yang ternyata tidak jadi ikut meramaikan gig, diceritakan nanti), Polka Polizei dan TerbujurKaku menjamu Jenny, Saviour, Nervous dan Cangkang Serigala. Sebuah mixtape kelas satu yang terwujud nyata. Dibuka dengan teriakan liar dari Ican dan Phleg, dua talent dari Cangkang Serigala dan TerbujurKaku (sebelumnya acara sempat molor karena Polka Polizei dan MC belum datang).


Langit yang terang dan udara kering menandakan alam mengijinkan kami menggelar acara dan Polka Polizei pun mengawali dengan track "Oliver", begitu kencang begitu dahsyat, sebuah appetizer yang menggairahkan!! Untuk selanjutnya, kami digiring ke "Travesty Humiliate" yang kembali mengguncang karena dalam review sebelumnya lagu-lagu mereka masih saya anggap monoton, dan kali ini mereka menanggapinya dengan pembuktian yang mantab. Drumming yang meleset di tengah lagu malah memberi progresi yang unik, daripada rapi yang robotik seperti yang lalu-lalu. Diakhiri dengan "One Dimension" yang nampaknya selalu berhasil membuat saya terkesan.


Saviour pun menggantikan setelah Polka Polize, dengan intro yang toksik, ada aroma metallica di sini dicampur keliaran New York-garage.
Dilanjutkan dengan lagu "Sudahlah-sudah" yang energik membawa tensi penonton naik walaupun ruang gerak begitu kecil. Lalu berlanjut dengan lagu yang-entah-saya-tak-dengar-judulnya namun masih passionate, dan yang mengejutkan, mereka melanjutkan dengan mengkover lagu The Strokes dari album Is This It. Mereka nampaknya masih memuja para penyelamat musik rock tersebut. Tembang "It's Over" pun berkumandang sebagai tanda akhir sesi mereka, sungguh berbeda ketika saya melihat mereka perform di Jogja beberapa tahun silam, hmm.. lebih matang saya kira.


Sesi pun bergulir ke atraksi musik paling edan yaitu TerbujurKaku, menggeber track-track remix ala breakcore dari lagu-lagu "Baby Hit Me One More Time" sampai Vierra yang "Dengarlah Curhatku", belum pernah saya melihat one man show seganas ini. Dengan visual yang sick, gabungan antara flash animation, video klip metal, parodi Bollywood dari thrillernya Jacko sampai goyang dangdut di televisi.


Dilanjutkan sesi Cangkang Serigala, death metal midi karaoke yang mana si Ican dan Oka performnya menggunakan laptop Phleg TerbujurKaku sebagai imannya, maka terjadilah pergumulan antara TerbujurKaku dan Cangkang Serigala.


Diawali dengan orasi-orasi yang mengguncang iman dari duo Cangkang Serigala dan seorang roadie setia yang kebetulan kuliah di sini yaitu Kuro(jaket merah) Pemuda Akhlak Hewan. Dimulailah kemudian duo sesat yang betul-betul edan dengan remix lagu-lagu metal mulai dari Slayer, ditambah ada microphone idle dipakai crowd untuk teriak-teriak liar, sungguh ramai.


Nervous pun melanjutkan dengan track instrumental yang sedikit mengingatkan saya pada era no wave New York 90-an, lalu disusul lagu "Gelap" yang very soothing sampai gitaris kedua pun naik kick drum dan lagu selanjutnya yang juga yang-entah-saya-tak-dengar-judulnya tapi teringat intro yang membawa saya pada judul "Love" (mungkin), sekali lagi sang gitaris di akhir lagu melakukan aksi sepuluh tahun silam ala Cobain, menabrak set drum yang mungkin membuat panitia dag dig dug.


Bergulir ke garda depan post rock lokal yaitu Others dengan lagu baru yang belum berjudul yang sedikit mengarah ke post doom dengan visualisasi cuplikan film Saving Private Ryan klop menambah nuansa bengis lagu ini. Dilanjutkan "Intro" selama beberapa menit dan lagu "I Live At The Messy World" dengan visualisasi galaksi dan bintang-bintang membawa aura kosmik keluar dari mereka, kemudian langsung dilanjutkan lagu terakhir "Fire For Freedom" dengan beat yang sungguh anggun, sedikit upbeat membuat saya seakan lari tanpa beranjak darimana pun.


Jenny pun akhirnya mulai mempersiapkan diri di stage. Setelah sehari dijamu wawancara di sebuah stasiun radio lokal, memulai agresi dengan "Mati Muda", disusul dengan lagu-lagu "Maha Oke", "Monster Karaoke", "Menangisi Akhir Pekan" dan "Manifesto Postmodernisme" dari LP terbaru mereka Manifesto.


Pada sesi ini saya melihat pemandangan yang membuat saya terharu, sebuah pemandangan yang sangat dramatis. Diliputi crowd choir hampir di setiap lagu, Farid sang vokalis begitu liar membawa crowd headbang dan berdansa , bahkan panitia yang sedikit nervous akan keselamatan alat pun ikut larut dalam festivity ini.


Hujan gerimis sedikit membuat panik panitia ketika Jenny masih meneruskan performance mereka sampai habis. Saat itu juga alat-alat diungsikan ke tempat yang aman, namun sialnya hujan pun berhenti, dan lebih sialnya lagi gitaris dari Hi Mom! terlanjur pulang dan Hi Mom! tidak bisa bermain perihal personil minus one. Di samping gambling antara melanjutkan acara atau tidak itu, Ican dengan ganasnya meracau sambil mengitari venue, menambah keliaran malam itu.


Atas keputusan dari diskusi antara petinggi Aiola Store dan panitia, acara diteruskan dan langsung di-skip ke talent berikutnya yaitu The Nobodies. Panitia dan teman-teman guest star kembali mengangkuti alat-alat ke tempat stage semula berada. Setelah semua "lock and loaded" langsung crowd dihajar dengan track "Every Minute Every Boring" dari The Nobodies, terlihat hanya beberapa local friends yang ikut festivity ini dan choiring,

Photobucket
yang lain nampak lelah namun applause begitu ramai setelah lagu ini selesai. Berlanjut dengan "Homohominilupus" yang kembali memakan audience sendiri. Tanpa basa-basi pun, "No Action Talk Only" diluncurkan sekaligus menutup acara ini. By far, ini adalah the best exchange gig yang pernah saya hadiri.
A wild wild night!!!!

FriendzineSBY signing off

by: S.A Jammal
photo: Denan Bagus
editor: M.santai, Tuan Kentang

Kuta Madness

May 17th, 2009

Kuta menggila setelah sehari sebelumnya temen-temen Silly Voice, Blingsatan, Devadata, The Brandals, dan Endank Soekamti mengguncang Singaraja.
Untuk pertama kalinya, saya merasakan gig di Hardrock Cafe Kuta (yeah.. saya memang ga gaul!! hahaha!!).
Setelah banyak-banyak berkeringat di Twice Bar, saya menuju venue dimana saat itu Devadata baru saja mulai dengan track Harakiri-nya. Hei..
nampaknya ada yang baru di Devadata, Ryan(gitaris Ovalens) turut andil menambah kegilaan di panggung.
Masih belum jelas apakah additional player atau personil baru di Devadata.
Powerfull sounds played by this mighty SBHC band. Di situ saya sempat melihat sosok Wahyu Error Scream dan Nuncep Ninefolds sibuk memilih groupies(what a couple of wankers!!hahahaha)
Blingsatan melanjutkan crowd di atas stage, dibuka dengan track Yang Muda Yang Bercinta, tampaknya sudah lumayan banyak juga temen-temen Bali yang mengetahui lagu-lagu band yang satu ini.
Next, ada Silly Voice, Riko dari Mahkota Jaya Abadi dan ehm.. seseorang bernama Kuro (..hahahaha!!) sebagai additional guitar and bass, mereka mulai melantunkan Silly Song sebagai pembuka dilanjutkan dengan Drug Don't Work dan Lepas Kendali.
Finally, temen-temen Endank Soekamti menutup kegilaan Kuta ini dengan Mari Bercinta. This is the moment, ketika seorang fans mereka me-request Bau Mulut, Erick spontan meminta fans tersebut memainkan bassnya dan menggantikan dirinya bernyanyi, hahaha..entah mimpi apa fans itu semalam. What a great appreciaton to their fans. Kegilaan di Hardrock ditutup dengan 3 pitcher bir di depan saya!! Hahahahaha ( Everyday in Bali is Holiday! Hahahahaha!!). Yeah, I'll miss Bali. We'll.. 

By Kuro Damnass

Twice Bar Regular Gig

17 mei 2009 sepertinya hari yang berisik di Kuta.
Kuta Madness menanti di malam hari, Twice Bar pun tidak kalah menggila.
Dibuka oleh MC Gopar yang aslinya arek Sidoarjo dan punya cewek bule cantik (saya sempat iri), gig ini diawali dengan perform temen-temen dari Surabaya, Silly Voice.
Crowd pun memadat(baik lokal maupun interlokal!hahahaha).
Silly Song, Lepas Kendali, dan Drugs Don't Work memanaskan Twice Bar untuk sesaat. Setelah bernafas untuk sesaat di luar bar, The Hydrant mulai membuat saya tertarik untuk kembali berkeringat di dalam Twice Bar.
Meskipun tanpa Morris sang drummer dan Zio sang bassis yang digantikan oleh Topper(drum) dan Adi (bass), mereka mulai melantunkan tembang Seribu yang membuat saya tersenyum sendiri seperti orang gila(memang gila sepertinya!hahahaha).
Sangat disayangkan ketika The Brandals mulai mengambil alih stage, saya harus segera menuju Hardrock Cafe untuk menggila di Kuta Madness. Nevertheless, I bet their performance are wild. As wild as in Singaraja. Cheers with Arak Obama!!


By : Kuro Damnass

Rabu, 27 Mei 2009

One City One Crew







Gigs Report
One City One Crew
23 Mei 2009
Magnetz Zone


Untuk beberapa kalinya Magnet Zone digunakan sebagai gigs hardcore/punk yang bertempat persis di tengah kota Surabaya, sayangnya untuk gigs “One City One Crew” ini saya terlambat datang karena sibuk bermain-main dengan anjing peliharaan saya di tempat kerja.


Iya, oke, pertama saya datang terlambat pada jam tujuh malam dimana saya digeber langsung oleh Screaming Out, band hardcore Surabaya ini cukup eksis lama sekali dikancah persilatan hardcore Indonesia. Mereka membawakan lagu-lagu di album Loyalitas Tanpa Batas (Truedie Record), dan ternyata eh ternyata ada special guest yaitu bang Tunggul (vokalis lama SO), sungguh cukup reunion moment yang tanpa batas. Setelah SO berlaga, Total Berantakan dipanggil oleh mas Sugenk, MC kondang masa kini se-Dharmahusada. Total Berantakan mengingatkan saya pada hari itu di UMM Dome, ough Ex*****ed Ough…!!! Total Berantakan hebat dengan personil yang ganteng-ganteng dan liar, apalagi itu si gitarisnya (trims buat kaos Judas Iscariotnya bang, ehehehheheheh), cukup hebat dan fantastis kaosnya, eh permainan Total Berantakan di acara itu maksudnya.


Setelah dikerubungi oleh band-band Surabaya, akhirnya kota Sidoarjo menyerang dari tengah dengan Project 13-nya, digawangi vokalis wanita dan berandalan-berandalan ramah Sidoarjo, cukup membuat panas para pemuda-pemudi tanggung Surabaya di tengah pit, ahahahhahahah. Yang saya sangat senang drumernya ganteng sekali, mengingatkan saya pada drumernya DeltaForce(sidoarjo),loh selidik punya selidik emang ternyata ex DeltaForce . Tapi permainan loyo vokalisnya menjadi kurang mantap. Well, keseluruhan asik musiknya, saya sangat senang band hardcore dengan front line-nya wanita, bikin saya siiiiirrr.. gitu.

Tidak kalah serunya, sesudah Project 13 adalah penampilan De Morte, band ska dari Surabaya ini cukup atraktif sekali, ditemani groupiesnya satu orang, menari-nari aneh di tengah pit seperti layaknya live performance dari The Locust. Membawakan lagu-lagu baru mereka yang akan segera keluar E.P-nya pada pertengahan bulan depan ini.


Montor Kloneng menyayat langsung para penonton setelah penampilan De Morte, membawakan lagu-lagu cepat dan eh, ada bang Tunggul lagi, bernyanyi dan entah tidak begitu paham saya-nya, mas Pongky terlihat di pojok panggung, hebat Montor Kloneng hebat, gore fast rulez!! Yeah.. .

Setelah saya terlalu kelelahan berkaraoke bersama De Morte dan menonton band idola saya, Montor Kloneng, akhirnya saya pulang untuk istirahat sebentar, setelah itu penampilan Plester X, band legenda Surabaya kota ini, menutup seluruh acara ini dengan hangat, tambahan 3 personil baru langsung dari pemain gitar dan brass sungguh asik dilihat, terlihat dari gitaris baru itu ternyata frontman band yang cukup gahar sekali di Surabaya dan menghilang begitu saja (My Love). Plester X seperti biasa melantunkan lagu-lagu yang akan membuat anda bernyanyi bersama sampai rata. Tapi, terlihat penampilannya agak kurang bersemangat, tidak seperti di acara Prambors kemarin yang perform cukup hebat sekali.


Untuk keseluruhan acara, “One City One Crew” sangat sukses dan harus dibuat yang kedua, ketiga dan seterusnya sampai kiamat. 10 jempol untuk youth kolektif!! Tanpa kalian, pasti tidak akan ada acara One City One Crew ini. Yeahh.. Viva la Hardcore!!





Ditulis oleh EriMemangYahud(i)
Diubah dan ditambahi oleh Tuan Alfan dan Tuan Kentang